Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, terus berupaya menjaga kesenian tradisional agar tidak ditinggalkan generasi muda. Salah satunya melalui Sanggar Srawung Krumpyung, komunitas seni budaya yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan gamelan krumpyung, kesenian khas berbahan bambu.
Sanggar ini berdiri pada 2012 atas prakarsa Bapak Sujarwanta, selaku pimpinan Srawung Krumpyung. Berdirinya sanggar dilatarbelakangi keinginan untuk melestarikan gamelan krumpyung yang mulai kurang diminati generasi muda. Selain mempertahankan keberadaannya, sanggar juga mengembangkan fungsi gamelan krumpyung sebagai pengiring berbagai seni pertunjukan, media pendidikan budaya, serta bagian dari pengembangan etnowisata berbasis masyarakat.
Dalam perjalanannya, Srawung Krumpyung aktif melakukan pelatihan dan regenerasi seniman muda. Berbagai inovasi juga dilakukan pada perangkat musik, seperti pengembangan kendhang bambu dan seruling. Upaya tersebut membuat gamelan krumpyung tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga kesenian yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Hingga saat ini, Srawung Krumpyung telah tampil dalam berbagai kegiatan budaya, antara lain di Taman Budaya Kulon Progo, Jogja TV, hingga Kabupaten Badung, Bali. Sanggar juga mengembangkan pertunjukan kolaboratif antara gamelan krumpyung dan Tari Angguk, termasuk di kawasan wisata Waduk Sermo dan Purawisata Yogyakarta.
Kolaborasi tersebut menjadi cara sanggar memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat dengan kemasan pertunjukan yang lebih beragam. Selain itu, promosi dilakukan melalui media sosial dan kanal YouTube agar gamelan krumpyung dapat dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda.
Bagi Srawung Krumpyung, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga kesenian agar tetap ada, tetapi memastikan kesenian tersebut tetap hidup dan memiliki fungsi di tengah masyarakat. Melalui pertunjukan, pendidikan, kolaborasi, dan promosi digital, gamelan krumpyung terus diperkenalkan sebagai identitas budaya Kulon Progo.
Ke depan, sanggar berharap gamelan krumpyung dapat semakin dikenal sekaligus menjadi bagian dari pengembangan etnowisata di kawasan Waduk Sermo. Dari Hargowilis, suara gamelan berbahan bambu terus menggema, membawa warisan budaya lokal menuju generasi berikutnya.

